mber dari rasa rendah diri yang kronis, penolakan terhadap diri sendiri,
ketidak mampuan menghargai diri sendiri hingga berusaha mati-matian menutupi
keaslian diri.
3. Positive thinking
Cobalah
memerangi setiap asumsi, prasangka atau persepsi negatif yang muncul dalam
benak Anda. Anda bisa katakan pada diri sendiri, bahwa nobody’s perfect dan
it’s okay if I made a mistake. Jangan biarkan pikiran negatif berlarut-larut
karena tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar, bercabang dan berdaun.
Semakin besar dan menyebar, makin sulit dikendalikan dan dipotong. Jangan
biarkan pikiran negatif menguasai pikiran dan perasaan Anda. Hati-hatilah agar
masa depan Anda tidak rusak karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh
pikiran keliru. Jika pikiran itu muncul, cobalah menuliskannya untuk kemudian
di re-view kembali secara logis dan rasional. Pada umumnya, orang lebih bisa
melihat bahwa pikiran itu ternyata tidak benar.
4. Berani mengambil resiko
Berdasarkan
pemahaman diri yang obyektif, Anda bisa memprediksi resiko setiap tantangan
yang dihadapi. Dengan demikian, Anda tidak perlu menghindari setiap resiko,
melainkan lebih menggunakan strategi-strategi untuk menghindari, mencegah atau
pun mengatasi resikonya. Contohnya, Anda tidak perlu menyenangkan orang lain
untuk menghindari resiko ditolak. Jika Anda ingin mengembangkan diri sendiri
(bukan diri seperti yang diharapkan orang lain), pasti ada resiko dan
tantangannya. Namun, lebih buruk berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa
daripada maju bertumbuh dengan mengambil resiko.
5. Mensyukuri rahmat Tuhan
Ada
pepatah mengatakan yang mengatakan orang yang paling menderita hidupnya adalah
orang yang tidak bisa bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah diterimanya
dalam hidup. Artinya, individu tersebut tidak pernah berusaha melihat segala
sesuatu dari kaca mata positif. Bahkan kehidupan yang dijalaninya selama ini
pun tidak dilihat sebagai pemberian dari Tuhan. Akibatnya, ia tidak bisa
bersyukur atas semua berkat, kekayaan, kelimpahan, prestasi, pekerjaan,
kemampuan, keahlian, uang, keberhasilan, kegagalan, kesulitan serta berbagai pengalaman
hidupnya. Ia adalah ibarat orang yang selalu melihat matahari tenggelam, tidak
pernah melihat matahari terbit. Hidupnya dipenuhi dengan keluhan, rasa marah,
iri hati dan dengki, kecemburuan, kekecewaan, kekesalan, kepahitan dan
keputusasaan. Dengan “beban” seperti itu, bagaimana individu itu bisa menikmati
hidup dan melihat hal-hal baik yang terjadi dalam hidupnya? Tidak heran jika
dirinya dihinggapi rasa kurang percaya diri yang kronis, karena selalu
membandingkan dirinya dengan orang-orang yang membuat “cemburu” hatinya. Oleh
sebab itu, belajarlah bersyukur atas apapun yang Anda alami dan percayalah
bahwa Tuhan pasti menginginkan yang terbaik untuk hidup Anda.
6. Menetapkan tujuan yang realistic
Anda perlu mengevaluasi tujuan-tujuan yang Anda tetapkan selama ini, dalam arti apakah tujuan tersebut sudah realistik atau tidak. Dengan menerapkan tujuan yang lebih realistik, maka akan memudahkan anda dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian anda akan menjadi lebih percaya diri dalam mengambil langkah, tindakan dan keputusan dalam mencapai masa depan, sambil mencegah terjadinya resiko yang tidak diinginkan.
Hanya
kita sendiri yang bisa membangkitkan rasa percaya diri kita.Tidak ada orang
lain yang bisa merubah diri kita selain diri kita sendiri. Jadi janganlah mudah
menyerah, kembangkan potensi diri yang ada karena kita sendiri yang akan
menentukan kesuksesan masa depan kita.
RSS Feed
Twitter
07.28
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar